Istriku Jadi Pelacur untuk Tetanggaku
Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Bokep Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Aku memegang teteknya. Mendadak jari tanganku dingin semua. Sekali. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Lho, salon kan tempat umum. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung.
